Ehhmmm........berhubung laporan saya dan rekan saya kali ini kembali digabung, saya malas menulis kronologisnya, karena laporan ini sebenarnya untuk percobaan, tetapi tetap diliput sungguh-sungguh, hehe
Langsung saja, ini bentuk laporan yang sudah digabungkan :
Memburu Prestise di SD Inpres
Momo Regar dan Danang Setiaji
Medan, Tribun - Seorang anak laki-laki terbata mengeja baris-baris kata yang ditulis guru penguji di sebuah buku. "Ini...ibu, ubi...ba.ru, air...ini...ber....sih". Di sebelahnya, seorang perempuan serius memperhatikan sambil sesekali tersenyum. Tak jauh dari mereka, anak laki-laki lain mengeja lebih lancar. Kata demi kata yang ia eja, kemudian dituliskannya di atas secarik kertas.
Kedua anak laki-laki ini tidak sedang belajar membaca dan menulis. Mengeja baris-baris kata, menulis, juga berhitung dan bernyanyi, merupakan materi ujian masuk SDN Inpres Percobaan Jalan Sei Petani, Medan. Ujian berlangsung sejak Sabtu (26/6) hingga Kamis (1/7) kemarin. Hasilnya diumumkan 7 Juli mendatang.
Meski berstatus inpres, SD Sei Petani merupakan sekolah elit di Medan. Prestisenya sejajar SD Harapan, SD Dr Sutomo, SD Methodis dan SD Perguruan Al Azhar. Keelitan itu, antara lain tergambar lewat panjangnya antrian mobil mewah pada setiap jam masuk dan bubar sekolah.
Padahal dari sisi fisik, SD Sei Petani nyaris tidak berbeda dibanding sekolah-sekolah inpres pada umumnya. AC hanya ada di ruang kepala sekolah. Fasilitas lain juga biasa-biasa saja. Tak ada lapangan olahraga. Tak ada perpustakaan. Di dalam kelas yang berlantai keramik model lama, baik di lantai satu maupun lantai dua, hanya ada papan hitam, meja, dan kursi kayu. Dindingnya yang bercat kombinasi putih dan merah jambu, nyaris tertutupi kertas prakarya siswa.
Di depan pos petugas keamanan, terdapat majalah dinding (mading) yang terbengkalai. Selain beberapa lukisan bertema HUT kemerdekaan RI dan poster tanggap Flu Burung yang warnanya sudah menguning, mading itu juga memuat foto-foto pelatihan guru dan kegiatan siswa, di antaranya kegiatan peringatan Hari Anak Nasional tertanggal 31 Juli 2007.
Uniknya, ketidakistimewaan fisik ini ternyata tak membuat SD Sei Petani ditinggalkan. Dari tahun ke tahun, jumlah pendaftar justru terus meningkat hingga pihak sekolah harus menambah ruang kelas. Di awal perubahan status menjadi SD Inpres Percobaan, sekolah ini hanya memiliki dua ruang kelas satu yang masing-masing terdiri dari 20 siswa. Kini jumlahnya meningkat dua kali lipat. Siswa setiap kelas mencapai 35 sampai 40 orang.
Untuk meningkatkan kualitas seleksi, tahun ini pihak sekolah memberlakukan aturan lebih ketat. Terutama menyangkut kelengkapan administrasi. Calon siswa yang belum cukup umur langsung digugurkan. "Aduh, saya lupa bawa akte kelahirannya, Pak. Tertinggal di rumah. Apa boleh menyusul besok?" kata ibu seorang calon siswa.
Permintaannya ditolak panitia penyelenggara pendaftaran. Ibu tersebut disarankan mengambil akte dan menyerahkannya ke meja panitia hari itu juga. "Pendaftaran ditutup hari ini, Bu. Jika ada yang belum jelas, informasi lebih lanjut bisa dilihat pada papan pengumuman di depan," kata panitia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar